HUBUNGAN TINGKAT RELIGIUSITAS DENGAN KECEMASAN MORAL MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS WANGSA MANGGALA

BAB  I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang Masalah

Sektor pariwisata sebagai salah satu sektor andalan (leading sector) disamping industri kecil dan agro industri, merupakan suatu instrumen untuk menghasilkan devisa dan sekaligus diharapkan akan memperluas dan meratakan kesempatan berusaha, lapangan kerja serta memupuk rasa cinta tanah air.  Pariwisata adalah suatu fenomena yang ditimbulkan oleh salah satu bentuk kegiatan manusia, yaitu kegiatan yang disebut perjalanan (travel), maka perjalanan yang dikategorikan sebagai kegiatan wisata dapat dirumuskan sebagai berikut; “….Perjalanan dan persinggahan yang dilakukan oleh manusia di luar tempat tinggalnya untuk berbagai maksud dan tujuan, tetapi bukan untuk tinggal menetap di tempat yang dikunjungi atau disinggahi, atau untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dengan mendapatkan “upah“. Rumusan tersebut didasarkan atas definisi tentang pengertian pariwisata yang dirumuskan oleh dua pakar pariwisata berkebangsaan Swiss, Prof. Hunziker dan Prof. Krapf (dalam Kodhyat, 1996). Kedua pakar tersebut memberikan rumusan sebagai berikut :

Pariwisata adalah keseluruhan (gejala) dan hubungan-hubungan yang ditimbulkan oleh perjalanan dan persinggahan manusia di luar tempat tinggalnya dengan maksud bukan untuk tinggal menetap (di tempat yang disinggahinya) dan tidak berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan upah.

Dari pengertian pariwisata di atas, dapat diketahui bahwa pariwisata bukan merupakan kegiatan yang menghasilkan upah, sebaliknya dengan mengadakan perjalanan pariwisata, maka seseorang akan mengeluarkan biaya. Biaya-biaya dimaksud antara lain biaya konsumsi, biaya menginap, biaya transportasi, dan biaya-biaya lainnya. Biaya ini dikeluarkan sesuai dengan sarana yang digunakan oleh wisatawan ketika melakukan kunjungan wisata.

Berkaitan dengan itulah, maka kunjungan wisatawan mempunyai dampak ekonomi kepada daerah tujuan wisata yang didatangi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung adalah dengan adanya kunjungan wisatawan, maka akan menciptakan permintaan terhadap fasilitas-fasilitas  yang berkaitan dengan jasa industri pariwisata seperti hotel/losmen melati, rumah makan, sarana angkutan/travel biro dan jenis hiburan lainnya. Dengan adanya kegiatan pemenuhan kebutuhan wisatawan ini, akan meningkatkan pendapatan masyarakat (Yoeti, 1999). Dampak tidak langsung adalah perkembangan di bidang pariwisata akan meningkatkan juga bidang-bidang lainnya.

Fenomena peningkatan pendapatan yang diperoleh dari kunjungan wisatawan dapat dilihat dari pengalaman Bali sebagai daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Dari tahun ke tahun jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali semakin bertambah sejak lebih dari tiga dasawarsa. Sektor pariwisata dinilai sangat besar kontribusinya dalam pembangunan Bali. Peningkatan pendapatan per kapita penduduk Bali, mulai dari sekitar 70 dolar AS per kapita di tahun 1969 menjadi rata-rata 1200 dolar AS dimasa sebelum krisis ekonomi, dan sekarang sekitar 500 dolar AS. Hal ini membuktikan betapa besar pengaruh industri pariwisata bagi penduduk Bali (Karsadi, dkk., 2002).

Pariwisata dan sektor pendukungnya selama ini memang menjadi lokomotif ekonomi Bali. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali banyak dihasilkan dari sektor pariwisata. Wisatawan asing yang datang ke Bali mencapai jutaan orang per tahun. Mereka pada umumnya tinggal selama rata-rata 10 hari. Uang yang dibelanjakan antara 80 – 200 dolar AS per hari, dan untuk tempat tinggal mereka selama di Bali, mereka menginap di hotel, penginapan, dan pondok wisata. Tingkat hunian masing-masing jenis penginapan tersebut rata-rata mencapai 61 persen (Karsadi, dkk., 2002).

Namun sejak ledakan bom Sabtu malam tanggal 12 Oktober 2002 di Kuta Bali segalanya berubah. Ratusan orang tewas, sebagian besar korban adalah turis asing yang tengah menikmati kegembiraan. Bali yang dibangga-banggakan sebagai wilayah yang aman dan tenteram ternyata dijadikan target oleh teroris. Sektor pariwisata bali langsung terpukul. Ribuan turis asing membatalkan kunjungan ke Bali. Warga asing pun diminta Pemerintahnya masing-masing untuk hati-hati ke Bali yang dinilai tidak aman. Akibatnya, jumlah kunjungan wisatawan ke Bali langsung turun drastis selama beberapa bulan. Tingkat hunian hotel melorot sampai hanya menjadi 5,89 persen (Karsadi, dkk., 2002).

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa masalah keamanan sangat penting bagi wisatawan. Tujuan mereka berwisata adalah untuk melepas lelah dari segala rutinitas sehari-hari dan mendapatkan kesenangan, sehingga jika perjanlanan wisata mereka diwarnai keresahan karena tidak amannya daerah tujuan wisata yang mereka kunjungi, maka pastilah mereka tidak mau mengunjungi daerah wisata yang tidak aman itu.

Atas dasar keinginan untuk meningkatkan keamanan para wisatawan yang berkunjung ke daerah kunjungan wisata, maka diadakanlah Polisi Pariwisata. Polisi Pariwisata ini merupakan polisi yang khusus ditugaskan untuk mengamankan dan memperlancar kegiatan wisata yang dilakukan oleh para wisatawan.

pariwisata telah terbukti mampu memberi dampak positif dengan adanya perubahan yang besar dalam  kehidupan masyarakat. Secara ekonomi pariwisata memberi dampak dalam perluasan lapangan usaha dan kesempatan kerja, peningkatan income per kapita dan peningkatan devisa negara. Dalam bidang kehidupan sosial terjadi interaksi sosial budaya antara pendatang dan penduduk setempat sehingga dapat menyebabkan perubahan dalam way of life masyarakat serta terjadinya integrasi sosial.

Mengingat parisiwata memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pemasukan masyarakat, maka pemerintah menggalakkan sektor parisiwata dengan brusaha memenuhi apa yang menjadi kebutuhan wisatawan. Salah satu kebutuhan wisatawan adalah rasa aman dalam berwisata.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk meneliti apakah ada hubungan antara religiusitas dengan kecemasan moral di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta.

 

B.  Tujuan dan Manfaat Penelitian

            Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara tingkat religiusitas dengan kecemasan moral mahasiswa. Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah mampu memberikan manfaat baik secara teoritis maupun manfaat praktis, yaitu:

1.   Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu menambah khasanah teoritis khususnya dalam bidang psikologi klinis dan psikologi islami.

 

2.   Manfaat Praktis

Hasil   penelitian   ini   dapat   digunakan  sebagai  pengetahuan  praktis  untuk

mengetahui tingkat kecemasan moral dan religiusitas di kalangan mahasiswa Universitas Wangsa Manggala pada khususnya, dan remaja pada umumnya.

0 Responses to “HUBUNGAN TINGKAT RELIGIUSITAS DENGAN KECEMASAN MORAL MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS WANGSA MANGGALA”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Laman

Blog Stats

  • 179,210 hits

%d blogger menyukai ini: