PERKEMBANGAN SEKTOR PARIWISATA DI BALI (TINJAUAN DAMPAK PASCA BOM BALI DAN RESPON PEMERINTAH)



/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}

BAB I

POTENSI PARIWISATA BALI

 

A.  Agama dan Kebudayaan Bali

Sejak lama Pulau Bali telah terkenal tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang mempunyai keindahan alam yang luar biasa serta kebudayaan yang bernilai tinggi. Kebudayaan Bali yang bernilai tinggi merupakan hasil perpaduan antara kebudayaan asli dengan tradisi agama Hindu-Bali yang membuatnya menjadi pulau yang dijuluki Pulau Dewata, karena terdapat ribuan pura indah yang merupakan tempat ibadah sekaligus memberikan daya tarik tersendiri bagi Pulau Bali.

Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan budayanya. Sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Bahasa Bali termasuk kedalam bahasa Indonesia. Jika dilihat dari sudut perbendaharaan kata dan strukturnya maka bahasa Bali tak jauh dari Bahasa Indonesia. Walaupun ada kesadaran tentang kesatuan budaya di Bali, namun kebudayaan Bali tetap merupakan perwujudan dari banyaknya variasi dan perbedaan setempat pada lingkup yang lebih kecil.

Perbedaan setempat itu muncul karena faktor kebudayaan Jawa Bali di berbagai daerah di Bali. Kebudayaan Hindu Kuno pada jaman Kerajaan Majapahit dahulu menyebut adanya dua bentuk masyarakat yang berkembang di Bali. Kedua bentuk masyarakat yang dimaksud adalah :

1.      Masyarakat Bali-Aga

2.      Masyarakat Bali Majapahit

Masyarakat Bali Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu dan memiliki struktur sendiri. Hal ini bisa terjadi karena pada umumnya masyarakat Bali-Aga mendiami desa-desa di daerah pegunungan. Sebaliknya masyarakat Bali Majapahit mendapat pengaruh yang sangat besar dari kebudayaan Majapahit atau Jawa. Saat ini masyarakat Bali Majapahit merupakan bagian paling besar dari penduduk pulau Bali.[1]

 Sebagian besar masyarakat  Bali menganut Agama Hindu. Walaupun terdapat pula sebagian kecil dari masyarakat Bali yang menganut Agama Islam, Kristen dan Katolik. Agama Hindu merupakan agama mayoritas di Bali.

Unsur-unsur lokal yang terdapat dalam agama Hindu adalah unsur adat istiadat yang merupakan dasar kebudayaan. Di berbagai daerah di Bali terdapat variasi lokal dari agama Hindu-Bali yang berbeda. Dalam kehidupan keagamaannya masyarakat Hindu percaya akan adanya satu Tuhan. Konsep ajaran yang berbentuk Tri Yang Esa. Konsep ajaran ini mempunyai tiga wujud yaitu, Wisnu yang melindungi serta memelihara, wujud Brahma yang menciptakan serta Siwa yang melebur segala yang ada. Semua ajaran ini terangkum dalam kitab suci agama Hindu yaitu Kitab Weda.

Hubungan antara Agama Hindu dan budaya di Bali sangatlah erat. Seperti telah dijelaskan di atas, di samping keterkaitan akan kebudayaannya, budaya Bali juga amat dipengaruhi oleh agama Hindu yang merupakan agama mayoritas. Agama Hindu juga dirasakan sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kebudayaan. Dengan keterkaitan tersebut kemudian muncul kebudayaan dan agama yang saling mempengaruhi dan hingga kini dirasakan bahwa budaya Bali merupakan perwujudan dan pelaksanaan agama Hindu.

 

B.  Obyek-obyek Wisata di Bali

1.   Pura Besakih

Pura Besakih adalah Pura terbesar dan tertua yang merupakan pura utama di Bali. Pura ini terletak di kaki Gunung Agung di wilayah Pendung, Kabupaten Karang Asem 65 km dari Denpasar. Berdasarkan catatan yang terdapat dalam prasasti logam maupun lontar, Pura Besakih pada awal berdirinya merupakan bangunan Palinggih kecil yang kemudian diperbesar dan diperluas secara bertahap, dan hal itu dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Dari sumber-sumber itu dapat pula diketahui bahwa Pura Besakih sudah ada pada permulaan abad II yaitu tahun 1007. Pada saat itu adalah masa pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019 – 1042) dan Empu Kuturan menjadi Senopati di Bali.

Sumber lain mengatakan bahwa Pura Besakih berdiri karena kepindahan Maharesi  Mahakandeya bersama rombongannya sebanyak 8000 orang dari Gunung Rawang di Jawa Timur ke Bali untuk menetap dan membuka tanah-tanah pertanian serta mendirikan Pura Besakih tersebut. Nama Besakih berasal dari kata Basuki yang berasal dari nama seorang resi yang menemukan Pura Besakih tersebut. Kata Besakih itu sendiri mempunyai arti:

a.      Untuk mengenang Resi yang telah berhasil menemukan Pura Besakih tersebut.

b.      Selamat karena diambil dari nama Basuki yang artinya Selamat.

c.       Sebagai awal maupun permulaan dari nama Besakih.

Pura yang memiliki luas ± 8 km ini terdiri dari 26 pura besar dan kecil yang terbagi menjadi 3 (tiga ) kelompok besar, yaitu :

a.   Pura Penataran Agung

Pura ini merupakan pura utama dan juga merupakan pura yang paling besar di antara pura-pura yang berada di dalam kompleks Besakih. Tidak heran dari posisinya kita bisa melihat bahwa pura ini terletak di tengah-tengah kelompok pura di kompleks Pura Besakih. Pura Panataran Agung memiliki bentuk paling megah dan ukuran palling tinggi dibandingkan dengan pura-pura lainnya. 

b.   Pura Simpangan

Letaknya di Desa Kadundung, di tengah-tengah ladang kurang lebih 15 km. Fungsinya sebagai tempat persimpangan sementara. 

c.   Pura Dalem

Letaknya  disebelah utara tikungan jalan terakhir sebelum sampai di desa Besakih, kurang lebih 1 km disebelah barat daya Pura Penataran Agung.

d.   Pura Manik Mas

Pura ketiga ini terletak bagian kiri jalan menuju ke Pura PenataranAgung. Pura ini berjarak kurang lebih 75 m disebelah selatan Pura Penataran Agung.

e.   Pura Bangun Sakti

Terletak di sebelah kanan jalan menuju ke Penataran Agung dan sebelah kanan Pura Manik Mas.

f.   Pura Ulun Kulkul

Terletak lebih kurang 350 m sebelah kiri jalan menuju Penataran Agung.

g.   Pura Marajan Selonding.

Terletak di sebelah kiri Penataran Agung yang berfungsi sebagai penyimpanan benda-benda pustaka.

h.   Pura Gowa

Terletak di kanan jalan dan berhadapan dengan Pura Marajan Selonding. Di kompleks pura ini terdapat goa yang besar, namun bagian-bagiannya banyak yang sudah runtuh

i.    Pura Banawa

Terletak di sebelah kanan jalan di hadapan Pura Besakih kurang lebih 50 m dari Besakih.

j.   Pura Merajan Kanginan

Terletak di sebelah Timur Pura Banawa.

k.   Pura Hyang Alun

Terletak di sebelah Barat, kurang lebih 200 m dari Pura Penataran Agung.

l.   Pura Basukihan

Letak di sebelah kanan tangga naik menuju Pura Penataran Agung

 

Di pura Besakih juga terdapat 2 (dua) tempat tirta/air suci, yaitu:

a.      Tirta Tunggang dipakai dalam upacara-upacara  oleh umat Hindu di Bali, terutama dala upacara ‘Akwa-Tiwa‘.

b.      Tirta Padiksiun dipakai untuk pensuciaan baik jasmani maupun rohani

Pura Besakih ini disamping merupakan Pura Hindu Dharma juga sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widi Wasa yang juga merupakan Pura Kahyangan Jagat dari semua Kahyangan di Bali.

Setiap pengunjung diwajibkan memakai selendang yang berwarna kuning atau merah yang tujuannya untuk mengendalikan diri. Bagi perempuan yang sedang berhalangan tidak diperkenankan masuk. Sebagai mana tempat ibadah pada umumnya pura memiliki fungsi sebagai “pusat adat istiadat yang berarti semua kegiatan yang mencakup sistem nilai budaya dan juga sistem norma menurut pranata-pranata yang ada di dalam masyarakat yang bersangkutan termasuk juga dalamnya norma agama.[2]

Upacara-upacara yang dilakukan di Pura Besakih yaitu :

a.   Upacara Sapi Agung Eka Dasa Luara

Upacara ini dilaksanakan 100 tahun sekali. Tujuannya untuk menormalkan kembali dunia supaya adil dan sentosa.

b.   Upacara Panca Wali Krama

Upacara ini dilaksanakan setiap 10 tahun sekali.

c.   Upacara Bathara Turun Kabeh

Upacara ini dilaksanakan setiap tahun, yaitu setiap bulan purnama bulan kesepuluh. Di sepanjang jalan menuju Pura banyak terdapat pedagang buah salah Bali. Untuk sampai ke Pura Besakih kita harus berjalan kaki. Tetapi disana ada penjual jasa yang menyewakan sepeda motor dengan ongkos kira-kira Rp 1.500,-

 

2.  Pura Tanah Lot

Pura ini terletak di tepi pantai tepatnya berdiri di atas batu karang. Apabila dalam keadaan laut surut kita dapat jalan kaki kesana. Tetapi apabila laut sedang pasang, untuk mencapai Pura Tanah Lot ini harus mengunakan perahu, Maka pulau ini dinamakan Pura Tanah Lot yang berarti tengah laut.

Dahulu para pengunjung obyek ini diperbolehkan masuk ke dalam Pura. Akan tetapi, kini pengunjung dilarang masuk. Pengunjung hanya dapat menikmati keindahan Pura dari jarak yang agak jauh. Hal ini karena batu karang yang menjadi landasan Pura sudah rapuh yang di sebabkan pengikisan air laut. Akan tetapi pengikisan air laut itu dapat diperlambat karena di sekitar Pura diberi penghalang berupa beton-beton semen yang merupakan bentuk batuan dari Belanda.

Konon kabarnya Pura ini dihuni oleh seekor ular yang merupakan penjelmaan dari orang yang telah membangun Pura ini dan di sekitar Pura ini banyak ditumbuhi pohon jeruk.

 

3.  Pantai Kuta     

Pantai Kuta terletak di Kecamatan Kuta Kabupaten Badung. Dari Denpasar hanya 11 km dan dapat ditempuh hanya dengan waktu 15 menit. Pantai Kuta dikenal dari sekitar tahun 1930. Pantai Kuta ini dikenal karena faktor yang sangat mendukung keberadaanya. Menyadari akan kemajuan yang terjadi di Bali, Pemerintah Daerah Bali berinisiatif untuk membuat rencana induk pengembangan wilayah ini, terutama untuk melestarikan Pantai Kuta sebagai sebuah tempat wisata yang bernuansakan alam. Dengan demikian, setiap orang yang berkunjung ke Pantai Kuta akan merasakan sebuah suasana yang baru dan nyaman.                                             

Saat ini dengan semakin banyaknya wisatawan internasional dari berbagai negara ternyata menambah daya tarik Pantai Kuta sebagai tempat wisata. Keberadaan Bali atau Pantai Kuta sebagai sebuah desa internasional, karena selain untuk berwisata melepas ketegangan, kesempatan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai belahan penjuru dunia akan sangat menarik minat para wisatawan.

Salah satu bentuk keindahan yang khas di pantai ini kita dapat melihat matahari tenggelam, maka bila hari menjelang senja pantai ini ramai dengan pengunjung yang ingin melihat matahari tenggelam.

Di sepanjang jalan menuju pantai banyak terdapat toko-toko yang berjualan souvenir seperti bermacam-macam tas kulit, hiasan patung, topeng, dan lain-lain. Semuanya merupakan hasil kerajinan masyarakat Bali. Di sekitar pantai juga terdapat penginpan dan hotel, dari yang sederhana sampai yang mewah. Dipantai ini yang menarik selain dapat melihat matahari tengelam, kita juga dapat menikmati keindahan pasir putih.

Keberadaan Pantai Kuta yang strategis serta pemandangannya yang sangat indah menarik banyak wisatawan untuk berkunjung. Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung maka bermunculanlah berbagai fasilitas yang mendukungnya. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain berupa penginapan yang sederhana sampai penginapan yang mewah, bahkan banyak juga hotel berbintang dari bintang satu sampai dengan bintang lima. Selain penginapan banyak juga bermunculan restoran dan rumah makan dengan aneka hidangan, dan juga banyak terdapat para penjual jasa yang menawarkan jasa relaksasi sesuai trend yang berlaku untuk para turis, seperti misalnya jasa mengepang rambut, tato sementara, dan pedagang asongan lainnya.

Selain fasilitas tersebut di atas, juga masih banyak fasilitas lainnya. Fasilitas lain tersebut adalah penyewaan alat transportasi, penyewaan papan selancar, penyewaan buku bacaan, agen perjalanan wisata, pasar seni dan super market.

Untuk keselamatan dan kenyamanan para turis di Pantai Kuta, saat ini telah muncul sebuah organisasi penyelamat pantai. Seperti umumnya organisasi serupa yang biasanya disebut dengan Life Guard, maka lembaga tersebut berfungsi untuk menyelamatkan wisatawan yang terseret oleh ombak ataupun air laut pada saat berselancar maupun pada saat mandi di laut (pantai). Dengan adanya fasilitas hiburan dan juga fasilitas keamanan yang memadai seperti yang telah disebutkan di atas, diharapkan agar para wisatwan yang berkunjung merasa terhibur sekaligus merasa aman.

Menyadari akan kemajuan yang terjadi di Bali, Pemerintah Daerah Bali berinisiatif untuk membuat rencana induk pengembangan wilayah ini, terutama untuk melestarikan Pantai Kuta sebagai sebuah tempat wisata yang bernuansakan alam. Dengan demikian, setiap orang yang berkunjung ke Pantai Kuta akan merasakan sebuah suasana yang baru dan nyaman serta lain dengan yang dirasakan di tempat yang lain. Sehingga promosi wisata tidaklah harus dilakukan dengan membuat promosi besar-besaran, namun cukup dengan kesan yang diterima oleh setiap orang yang datang ke Pantai Kuta dan mereka puas kemudian ketika mereka pulang ke tempat asalnya dapat menceritakan pengalamannya di Bali terutama di Pantai Kuta.

 

4.  Tari Kesenian Barong

Barong menggambarkan pertarungan ‘kebajikan melawan kebatilan’. Barong adalah binatang purbakala yang melukiskan kebajikan, sedangkan Rangda hewan yang mengambarkan kebatilan. Pertunjukan Tari Barong terbagi menjadi  5 babak dan 1 pembukan yaitu :

a.   Gending Pembukaan

Barong dan kera sedang berada di dalam hutan, kemudian muncullah tiga orang bertopeng, Ketiga orang bertopeng menggambarkan tiga orang yang sedang membuat tuak di tengah-tengah hutan yang mana anaknya telah dimakan oleh harimau (Barong) itu dan dalam perkelahian ini hidung diantara salah seorang dari ketiga orang itu digigit kera tadi.

b.   Babak Pertama

Dua orang penari muncul dan meraka adalah pengikut-pengikut dari Rangda sedang mencari pengikut-pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam perjalanan menemui Patihnya.

c.   Babak Kedua

Pengikut-pengikut Dewi Kunti tiba. Salah seorang pengikut Rangda berubah menjadi setan (semacan Rangda) dan memasukkan roh jahat kepada pengikut Dewi Kunti yang menyebabkan mereka menjadi marah. Keduanya menemui Patih dan bersama-sama menghadap Dewi Kunti.

d.  Babak Ketiga

Muncullah Dewi Kunti dan anaknya Sahadewa dan Dewi Kunti berjanji kepada Rangda untuk menyerahkan Sahadewa sebagai korban. Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati mengorbankan anaknya Sahadewa Kepada Rangda. Tetapi setan (semacam Rangda) memasukan roh jahat kepadanya yang menyebabkan Dewi Kunti  menjadi marah dan tetap berniat mengorbankan anaknya serta memerintahkan kepada Patihnya untuk membuang Sahadewa ke dalam hutan. Dan Patih inipun tak luput dari dari kemasukan roh jahat oleh setan itu sehingga sang Patih dengan tiada perasaan kemanusiaan, menggiring Sahadewa ke dalam hutan dan mengikatnya di muka Istana Sang Rangda.

e.   Babak Keempat

Turunlah Dewi Siwa dan memberikan keabadian kepada Sahadewa dan keabadian ini tidak diketahui oleh Rangda. Kemudian datanglah Rangda untuk mengoyak-koyak dan membunuh Sahadewa tetapi tidak dapat dibunuh karena kekebalan yang dianugerahkan oleh Dewa Siwa, Rangda menyerahkan kepada Sahadewa dan memohon untuk diselamatkan agar dengan demikian ia bisa masuk sorga, permintaan ini dipenuhi oleh Sahadewa dan Sang Rangda masuk sorga.

f.   Babak Kelima

Kelika adalah seorang pengikut Rangda sedang menghadap Sahadewa. Penolakan ini menimbulkan perkelahian, dan Kalika merubah rupa menjadi “Babi Hutan” Sahadewa mendapat kemenangan, kemudian Kalika Berubah menjadi Burung tetapi tetap saja kalah. Dan akhirnya Kalika berubah lagi menjadi Rangda. Oleh karena saktinya Sahadewa tidak dapat membunuhnya dan akhirnya Sahadewa berubah menjadi Barong. Karena sama saktinya maka pertarungan ini tidak ada pemenangnya dan demikian pertarungan dan perkelahian ini berlangsung terus abadi “kebajikan’’ melawan “kebatilan’’, Kemudian muncullah pengikut-pengikut Barong masing-masing dengan kerisnya yang hendak menolong Barong dalam pertarungan melawan Rangda. Mereka ini semua pun tidak berhasil melumpuhkan kesaktian Sang Rangda.

 

5.   Pantai Sanur

Sanur sebagai salah satu objek wisata pantai di Pulau Bali, sudah terkenal karena suasana dan pemandangannya yang sangat indah. Pantai ini memiliki pasir putih, dan dari sinilah kita dapat melihat matahari terbit (sun rising).

Pantai Sanur bukan hanya sebuah pantai yang terkenal pada masyarakat Pulau Bali dan wisatawan dalam negeri saja, namun wisatawan asing pun sangat kenal dengan Pantai Sanur ini. Pada umumnya mereka datang untuk mandi di laut dan melihat betapa indahnya matahari terbit dari Pantai Sanur ini.

Letak Pantai Sanur kira-kira 6 km dari Kota Denpasar ke arah Timur. Dengan kondisi jalan yang sangat baik, maka Pantai Sanur bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor atau mobil. Setelah adanya jalan penghubung berupa jalan by pass yang menghubugkan antara Nusa Dua, Bandara, Kuta, Sanur, dan terus ke arah Tohpati, maka arus lalu lintas menjadi sangat lancar. Karena lokasinya yang strategis dan jalan yang baik, maka Pantai Sanur menjadi sangat ramai oleh kunjungan para wisatawan.

Pantai Sanur merupakan pantai yang bersejarah karena Pantai Sanur merupakan pantai tempat mendaratnya pasukan kerajaan Belanda ketika Belanda menyerang wilayah Badung pada waktu zaman penjajahan. Karena keindahannya, maka seorang pelukis Barat yang bernama Le Mayeur tinggal di sini, yang kemudian memperistri seorang wanita Bali yakni Ni Polok. Sekarang ini tempat di mana pelukis ini berdomisili berdiri sebuah museum lukisan yang disebut Museum Le Mayeur.

Hingga kini Pantai Sanur ramai dikunjungi wisatawan dalam maupun luar negeri karena keindahan alam dan lautnya serta di sana terdapat juga sebuah Museum Le Mayeur.

Melihat ramainya wisatawan yang berkunjung maka para pengusaha banyak mendirikan fasilitas-fasilitas pendukung dalam kompleks Pantai Sanur. Adapun fasilitas tersebut adalah berupa hotel-hotel dan penginapan dari kelas biasa sampai dengan kelas mewah.

Selain fasilitas di atas, Pantai Sanur juga menjadi tempat olahraga laut seperti windsurfing, selancar, menyelam, jet sky dan lain-lain. Dengan demikian Pantai Sanur menjadi wilayah tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan karena keindahan alam lautnya serta fasilitas yang tersedia sangat lengkap.

 

6.   Pura Tanah Lot

Pura ini sangat unik karena terletak di tengah laut. Pura Tanah Lot berada di sebuah semenanjung yang terbentuk karena kikisan air laut dengan khas atap pura serta berbagai kelengkapan sebagaimana layaknya tempat ibadah kaum Hindu Bali. Pura Tanah Lot di tengah panorama dengan latar belakang laut, seperti sebuah noktah indah dalam lukisan. Terlebih saat matahari terbenam yang memberi pesona dan keindahan yang menakjubkan.

Pura Tanah Lot, merupakan salah satu dari pesona wisata alam Pulau Bali. Mungkin sudah ditakdirkan, Pulau Bali terbentuk menjadi pulau dengan memiliki berbagai atraksi wisata menarik, baik wisata panorama alam, seni, budaya dan wisata olahraganya. Wisata alam Bali dikenal dengan wisata laut dan pantainya seperti pantai Kuta, Sanur, Lovina, Nusa Dua, dan lain-lain. Di ketinggian gunung pengunjung bisa menikmati Kintamani, danau Batur dan Pura Besakih.

Di Pura Tanah Lot, selain pemandangan tenggelamnya matahari di kaki langit yang mempesona, wisatawan juga dapat menikmati munculnya bulan purnama di malam hari. Jika air laut pasang, karang yang diatasnya berdiri megah. Sejumlah pura itu akan tampak bagai sebuah perahu terapung di atas air. Dan bila air laut surut, pengunjung dapat langsung sampai ke pelataran pura untuk bersembahyang. Untuk mencapai obyek wisata yang satu ini pengunjung harus menempuh perjalanan sejauh 13 km dari Kota Tabanan dan 20 km dari Kota Denpasar.

Di balik keindahan dan pesona obyek wisata ini, ada juga cerita mistik yang diyakini masyarakat sekitar, maupun para pengunjung. Misalnya saja sumber mata air tawar di bawah pura. Konon akan membuat orang awet muda dan menyembuhkan penyakit apabila diminum. Masih di bawah gua, konon menurut cerita masyarakat setempat, di sekitar Pura ini hidup ratusan ekor ular dengan warna hitam putih. Ular-ular itu sehari-harinya menjadi tontonan menarik bagi para pengunjung. Masih menurut cerita masyarakat setempat, dengan melihat ular-ular itu seseorang akan ketiban rejeki dan usaha yang digelutinya pun akan berjalan lancar.

Menurut penuturan seorang penjaga tempat suci itu, Pura Sad Khayangan Pura Tanah Lot tidak saja sebagai tempat wisata biasa, tetapi juga sebagai tempat sembahyang. Soal berdirinya pura terapung ini tidak ditemukan data pasti. Karena prasasti tentang berdirinya Pura Tanah Lot dibawa oleh orang-orang Belanda pada masa penjajahan dahulu. Namun dalam buklet pariwisata Kabupaten Tabanan menyebutkan, Pura ini bediri pada abad XI Masehi oleh Pendeta Bawu Rawuh atau Danghyang Nirartha yang berasal dari Kerajaan Majapahit.

Pendeta tersebut datang ke Bali membawa misi penyebaran agama Hindu Dharma, yang dikenal dengan sebutan Dharma Yatra. Dan ketika itu ia banyak membangun tempat suci di Bali. Dalam suatu perjalanan suci (Tapa Brata) menyusuri pantai selatan Pulau Bali, Dwi Jendra yang diberi gelar Bawu Rawuh itu menemukan tempat indah. Kemudian Dwi Jendra membangun tempat meditasi dan pemujaan kepada penguasa laut. Pendeta ini juga menyebarkan ajarannya kepada masyarakat Beraban, tempat obyek wisata Tanah Lot saat ini.

Kegiatan pendeta Dwi Jendra kemudian mendapat ancaman dari Bendara Sakti Beraban, yang kemudian menyusun kekuatan untuk mengusir sang pendeta. Sang Pendeta Dwi Jendra tidak melakukan perlawanan. Sebagai orang suci, ia tidak ingin menciptakan peperangan itu. Tetapi kemudian berupaya memisahkan batu karang tempat ia bersemedi dengan daratan. Sedangkan selendang berwarna hitam putih dikibaskan dan konon menjadi ular yang jumlahnya ribuan. Batu karang yang terpisah dari daratan itu kemudian diberi nama Tanah Lot, atau tanah di tengah laut. Akan kesaktiannya itu, pendeta Dwi Jendra justru mendapat simpati dari Bendara Sakti Baraban dan menjadi pengikut setia ajarannya. Dwi Jendra kemudian dijuluki Pedanda Sakti Bawu Rawuh artiya pendeta sakti baru datang. Pura ini oleh umat Hindu dianggap keramat. Karena itu para pengunjung harus berlaku sopan saat mengunjungi kawasan wisata ini, tidak berperilaku lainnya.

Sekarang, obyek wisata yang selalu dipadati wisatawan baik wisatawan mancanegara maupun domestik ini, menjadi obyek andalan bagi Kabupaten Tabanan yang sering dijuluki lumbung berasnya Bali itu. Adapun pengelolaan obyek wisata Pura Tanah Lot saat ini ditangani oleh desa adat setempat.[3]

Sejumlah restoran juga sudah dibangun di tempat ini. Hotel bintang lima, Bali Nirwana Resort berdiri megah tidak jauh dari obyek wisata Pura Tanah Lot. Bagi pengunjung yang akan berbelanja, sekitar areal obyek ini sudah tersedia art shop yang menjual barang seni.

Namun sayangnya keberadaan Pura Tanah Lot kini terancam punah oleh kikisan gelombang laut yang cukup dahsyat. Pemerintah memang sudah berupaya untuk menyelamatkannya. Yang jelas kini Pura Tanah Lot di atas pulau yang terbentuk dari breksi atau batu pasir vulkanik serta merupakan bagian dari formasi batuan vulkanik tufa dan endapan lahar bayan-bratan itu menjadi salah satu obyek wisata andalan di Indonesia, khususnya di Bali. Data statistik menunjukkan, obyek wisata yang satu ini menempati peringkat pertama dalam kaitannya dengan jumlah pengunjung. Karena itu Pura Tanah Lot yang terkenal ke seluruh dunia tersebut harus diselamatkan dari ancaman kepunahannya. “Bahkan pertimbangan kita bukan hanya faktor kepentingan pariwisata dan sejarah, tetapi juga penataan kawasan untuk menjaga kelestarian lingkungan”, kata Pemimpin Proyek Pengamanan Pantai Bali, Ir. Tjok Bagus Budiana.

Penataan kawasan yang dimaksud mencakup penataan ruang dan penataan bangunan yang akan mengarahkan kegiatan-kegiatan pembangunan di kawasan tersebut. Jenis besaran maupun bentuknya dapat diselaraskan dan saling mendukung, sehingga bisa tetap dijamin tercapainya keharmonisan antara alam lingkungan kesakralan pura maupun kepariwisataan dan kegiatan terkait lainnya.

Menyelamatkan Pura Tanah Lot, berarti menghalangi deburan gelombang samudera yang rata-rata setinggi 3 meter, agar tidak menghantam “pulau” kecil yang antik tempat berdirinya Pura Tanah Lot itu. Untuk itu dibuat bangunan pemecah gelombang (break water) dari tetrapod. Rinciannya, 2.477 unit ukuran 16 T atau yang mempunyai bobot sekitar 16 ton per unitnya dan 3.142 unit ukuran 6,3 T atau yang punya bobot sekitar 6 ton per unitnya.

Selain itu fisik pulau Tanah Lot sendiri harus diperkuat pula. Karenanya dibuat konstruksi perkuatan tebing yang kritis, dan batu buatan dari pasangan beton (volume 1.600 m3). Selanjutnya, dilakukan perbaikan dinding artificial rock atau dinding buatan pada Pura Tanah Lot.

Total biaya sekitar Rp 67,86 milyar lebih. Kegiatan tahap persiapan berupa perencanaan menelan biaya Rp 5.000.000,00 dari APBD Tk I Bali TA 1986/1987. Tahap pembangunan meliputi pembuatan bangunan pemecah gelombang (break water) dan perbaikan pelinggih (bangunan pura). Tiga sumber pembiayaan terdiri dari, Bantuan Presiden sesuai Keppres No. 056/B/1987 sebesar Rp 558.250.000,00; bantuan pemerintah Jerman Barat Rp 55.000.000,00; serta dari APBD Tk I Bali TA 1988/1989 sebesar Rp 35.000.000,00.

Pembangunan tahap II khusus menyangkut pembuatan bangunan pemecah gelombang, dengan dua sumber pembiayaan dari Bantuan Presiden sesuai Keppres No. 089/B/1988 tanggal 8 Juli 1988 sebesar Rp 265.000.000,00 dan dari Departemen Sosial Tahun Anggaran 1988/1989 Rp 500.000.000,00. Selanjutnya biaya terbesar yaitu sekitar 66,4 milyar untuk konstruksi perlindungan Pura Tanah Lot, yaitu pembuatan dan penempatan pemecah gelombang beton tetrapot 16 T dan 6,3 T. Dana tersebut dari pinjaman lunak pemerintah Jepang (OECF).

Sosialisasi penyelamatan Pura Tanah Lot di era reformasi ini relatif tidak mengalami hambatan dari masyarakat setempat. Namun untuk melaksanakan pemancangan tetrapod, ada sedikit kesulitan teknis yang bisa diatasi. Tetrapod tipe 16 T yang beratnya mencapai 16 ton dan tipe 6,3 yang beratnya mencapai 6 ton, itu berarti tidak ada helikopter yang bisa mengangkatnya Solusinya harus dibuat suatu “jembatan” ke tengah laut.

Namun apakah hal itu tidak mengganggu keberadaan Pura Tanah Lot? menurut Pimpinan proyek penyelamatan Pura Tanah Lot, karena Pura Tanah Lot adalah tempat suci dan setiap hari ada yang bersembahyang di sana, maka bagaimanapun keberadaan jembatan demikian menjadi masalah. Karena itu jembatan tersebut akan dihias sedemikian rupa sesuai dengan keindahan dan kesakralan Pura Tanah Lot. Selain itu tetrapot yang akan dipancangkan pun sebelumnya disucikan dulu oleh pendeta.

Kontraktor pelaksana di Tanah Lot terdiri dari dua kontraktor Jepang, Teisei dan Renkai serta satu kontraktor nasional PT PP. Kegiatan pembangunan menyelamatkan Pura Tanah Lot tersebut merupakan salah satu proyek pengamanan daerah pantai pulau Bali, selain paket untuk Pantai Nusa Dua, Sanur dan Kuta.

 

7.   Museum Negeri Propinsi Bali

Museum Negeri Propinsi Bali merupakan nama yang telah disempurnakan oleh pemerintah, dimana pada awal berdirinya dikenal dengan nama Bali Museum.

Lapangan Puputan Badung yang ada di depan museum memiliki nilai sejarah sebagai ajang pariwisata Puputan Badung yaitu perang habis-habisan antara Raja Badung melawan Belanda yang berlangsung pada tanggal 20 September 1906. Untuk mengenang peristiwa tersebut didirikan patung puputan dari perunggu dikelilingi tanaman hias dengan rumput menghijau ditengah-tengahnya. Secara insidentil lapangan tersebut dipergunakan sebagai tempat upacara nasional dan kesehariannya dimanfaatkan oleh masyarakat kota sebagai tempat rekreasi.

Museum Negeri Bali dengan Lapangan Puputan Badung memiliki hubungan terkait dari segi sejarah karena di satu pihak Lapangan Puputan Badung sebagai medan terjadinya peristiwa sejarah dan di lain pihak Museum Negeri Bali sebagai tempat menyimpan jejak peristiwa sejarah.[4]

Lokasi Museum Negeri Propinsi Bali cukup strategis yaitu berada dijantung kota Denpasar, di sebelah Timur lapangan Puputan Badung dan bersebelahan dengan Pura Agung Jagat Natha (tempat suci umat Hindu), dengan alamat Jalan Letkol Wisnu Denpasar. Paara pengunjung tidak sulit untuk menjangkaunya karena didepannya merupakan lalu lintas jalan umum dan kendaraan pengunjung bisa parkir di sana.

Setelah 30 tahun dibina oleh yayasan, maka sejak 15 Januari 1965, Bali Museum diserahkan secara resmi oleh Yayasan Bali Museum kepada pemerintah pusat di bawah naungan Lembaga Museum-museum Nasional dan dalam tahun 1966 selama Kabinet Ampera dijadikan Direktorat Permuseuman yang berada di bawah Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejak itu nama Bali Museum disempurnakan menjadi Museum Bali dan usaha meningkatkan serta pengembangannya terus diupayakan baik dibidang fisik maupun non fisik.[5]

Dari jumlah jenis koleksi yang ada, benda-benda ethnografi meliputi hampir 80% dari jumlah koleksi yang disimpan. Berdasarkan Jumlah koleksi tersebut maka museum ini tergolong jenis museum khusus karena koleksinya secara khusus berkaitan dengan satu disiplin ilmu saja.

Setelah masa pembangunan memasuki Pelita II, maka ditetapkan suatu kebijakan untuk memugar dan memperluas museum-museum daerah warisan kolonial, diarahkan untuk menjadi jenis museum umum, dan bagi propinsi yang sama sekali belum memiliki museum umum, didirikan museum baru jenis museum umum pula. Tujuan untuk memberikan corak museum bagi museum tingkat propinsi adalah untuk melestarikan benda-benda ethnografi suatu kelompok etnik sebagai hasil interaksi antara manusia dan lingkungannya.

Koleksi-koleksi Museum Negeri Propinsi Bali memiliki 13.903 buah koleksi. Dan hanya 15% yang dapat dipamerkan kepada umum. Koleksi tersebut dipamerkan pada 4 gedung terdiri dari 4 ruangan, yaitu Gedung Timur, Gedung Buleleng, Gedung Karangasem, dan Gedung Tabanan.

a.  Gedung Timur

Pada ruang bawah dipamerkan koleksi prasejarah dan sejarah. Koleksi prasejarah meliputi masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana, masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, masa bercocok tanam serta masa perundagian. Koleksi tersebut antara lain berupa kapak perimbas, kerang sisa makanan, beliung, tajak perunggu, sarkofagus, tahta batu, dan lain-lain.

Pada ruang atas dipamerkan koleksi hasil teknologi tradisional Bali, yang meliputi peralatan bangunan, peralatan dapur, peralatan permainan, serta peralatan pertanian tradisional Bali. Koleksi yang dipamerkan antara lain : pemugbug tanah liat, dare, pintu gedong, canggahwang, tugeh, penglaklakan, payuk, kekeb, keranjang gantung, bagem dan kele.

b.  Gedung Buleleng

Tipe bangunannya mencerminkan gaya bangunan Bali Utara dengan ciri khas patung singa. Koleksi yang dipajang di sini yaitu kain tradisional Bali terdiri dari kain cokordil, kain songket, kain gringsing, kain endek dan kain prada. Pada umumnya kain tersebut dipergunakan pada saat upacara adat atau agama seperti upacara akil balig, upacara potong gigi dan upacara perkawinan.

c.   Gedung Karangasem

Bangunannya berbentuk bale panjang yang mencerminkan tipe bangunan Bali bagian Timur. Di sini dipamerkan alat perlengkapan upacara panca yadnya yang meliputi Dewa Yadnya Pitra Yadnya, Resi Yadnya, manusa Yadnya dan Budha Yadnya. Koleksi yang dipamerkan yaitu pratima, janggawari, jempana, cecepan perak, pralingga, adegan, pisangjati, kajang, ayunan, subeng, petitis, sungu, gentong, dan lain-lain.

d.   Gedung Tabanan

Gedung ini merupakan sumbangan dari raja Tabanan. Gayanya mencerminkan tipe bangunan Bali bagian Selatan. Pada gedung ini dipamerkan benda-benda kesenian tradisional Bali terutama seni tari yang meliputi barong, tapel, gelungan, keris, wayang, dan lain-lain.

Selain koleksi-koleksi di atas terdapat juga koleksi-koleksi seperti batu-batuan, hasil budaya ethnis/suku bangsa, benda-benda purbakala, naskah-naskah kuno, keramik, mata uang, dan tanda jasa/stempel jaman dulu, seni rupa seperti ukir-ukiran kayu, dan lain-lain.

 


 

[1] Kuntjoroningrat, 1980, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru, hlm. 194.

 

[2] Munandar, M. Sulaiman. 1995. Ilmu Budaya Dasar. Bandung: PT Eresco, hlm. 16.

 

[3] Oka, A. Yoeti. 1996. Komersialisasi Seni Budaya dalam Pariwisata. Bandung: Angkasa, hlm. 5.

 

[4] Suanda, I Wayan. 1994. Teknis Pengelolaan Museum Negeri Bali. Denpasar: Proyek Pembinaan Permuseuman Bali, hlm. 8.

 

[5] Rapini, Ni Nyoman. 1994. Teknis Pengelolaan Museum Negeri Propinsi Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Bali, hlm. 1

0 Responses to “PERKEMBANGAN SEKTOR PARIWISATA DI BALI (TINJAUAN DAMPAK PASCA BOM BALI DAN RESPON PEMERINTAH)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Laman

Blog Stats

  • 179,210 hits

%d blogger menyukai ini: